Emereja.Com

Tips Ringan Bermanfaat

Panen Rambutan Menggembirakan

Panen Rambutan Menggembirakan

Panen melimpah buah rambutan di sentra penghasil rambutan yaitu Distrik Ulilin, Elikobel, dan Muting, Kabupaten Merauke, Papua, disambut gembira. Namun seiring banyaknya rambutan di pasaran, harga terus merosot meskipun dianggap masih jauh lebih baik dari musi m panen sebelumnya. “Sekarang harga terus turun tetapi tidak anjlok tajam seperti tahun lalu, karena panennya tidak berbarengan,” ujar Yatinem (54), warga Kampung Muting, Distrik Muting, Merauke, salah satu petani pemilik kebun rambutan yang juga pengumpul rambutan, Selasa (24/1/2012). Yatinem, yang memiliki 25 pohon rambutan di kebunnya, menuturkan, hasil musim panen ini menggembirakan. Satu pohon bisa menghasilkan sekitar 2-3 kuintal rambutan sekali panen Jual Bibit Rambutan.

Hasil itu, menurut dia lebih banyak dari musim panen sebelumnya. Dari membeli panenan petani lain, setiap hari ia bisa mengirimkan 1-2 ton buah rambutan kepada para pedagang buah di Kota Merauke dan ke Tanah Merah, Boven Digoel. Di tingkat petani, saat ini harga rambutan berkisar Rp 6.000 per kg. Harga itu turun dari Rp 12.000-Rp 15.000 per kg, pada saat awal masa panen pada bulan Desember. Di Kota Merauke, rambutan dijual seharga Rp 8.000-Rp 10.000 per kg, turun dari sebelumnya Rp 15.000 per kg. “Awalnya memang harganya cukup tinggi karena belum banyak yang panen. Sekarang sebagian besar sudah panen, jadi harga di petani turun dari Rp 15.000 ke Rp 12.000, Rp 10.000, Rp 8.000, dan sekarang Rp 6.000,” ujar Yatinem. Menurut Yatinem, harga rambutan Rp 6.000 per kg itu masih jauh lebih baik bila dibandingkan dengan musim panen rambutan tahun sebelumnya. Harga rambutan saat itu anjlok sampai hanya Rp 2.000 per kg.

“Dulu panennya berbarengan di tiga distrik sekaligus, jadi harganya langsung jelek. Kalau sekara ng, Distrik Muting panen lebih duluan, sedangkan Distrik Elikobel baru-baru ini,” ujarnya. Sementara itu, pengiriman hasil panen rambutan dari perkampungan transmigrasi di Kampung Bupul, Distrik Elikobel, sempat terhambat karena jalan menuju kampung itu terendam luapan sungai Kum. Jumadi (48), salah satu pedagang rambutan, mengaku rugi karena 1 ton rambutan yang dibelinya dari petani membusuk gara-gara truk pengangkut harus menunggu luapan Sungai Kum surut. “Kendalanya transportasi. Kondisi jalan nya sulit. Kalau musim hujan harus pakai mobil hi-line, truk tidak bisa,” ujarnya. Lokasi transmigrasi di Ulilin, Elikobel, dan Muting, merupakan sentra penghasil buah rambutan. Warga transmigran banyak yang memilih menanam rambutan, karena lahan mereka merupakan lahan kering sehingga tidak cocok ditanami padi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Merauke, produksi rambutan di Merauke terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2010, tercatat luas panen rambutan mencapai 46,7 hektar dengan hasil produksi mencapai 389,69 ton. Ini lebih tinggi dari tahun 2009, yaitu luas panen 44 ,25 hektar dengan produksi sebesar 354 ton.

  • Published On : 10 months ago on August 15, 2017
  • Author By :
  • Last Updated : August 15, 2017 @ 5:30 am
  • In The Categories Of : Berkebun

Leave a Reply

';